INKLUSIVITAS SENI RUPA BAGI PENYANDANG DISABILITAS TUNANETRA DALAM KARYA BEYOND SIGHT

Authors

  • Sheila Nurfitri Wijayanti Telkom University
  • Iqbal Prabawa Wiguna Telkom University
  • Dyah Ayu Wiwid Sintowoko Telkom University

Abstract

Dalam memahami pengalaman manusia secara lebih mendalam menjadi daya tarik untuk menciptakan karya seni rupa, dengan seni rupa yang inklusif bagi penyandang disabilitas tunanetra. Memperluas akses terhadap seni rupa yang berangkat dari gagasan seni lukis melalui expanded painting dalam mengembangkan karya seni lukis konvensional. Melalui pendekatan expanded painting ini, karya Beyond Sight mengintegrasikan elemen visual ke dalam medium yang lebih luas dengan menciptakan karya seni rupa yang berasal dari gagasan seni lukis dapat dirasakan melalui indera selain penglihatan. Mengubah esensi seni rupa yang awalnya menggunakan medium yang hanya dapat dinikmati oleh visual menjadi audio dan dapat diraba, sehingga menghasilkan karya yang inklusif. Dalam proses penciptaan karya, dilibatkan lima anak penyandang disabilitas tunanetra dari SLBN A Citeureup untuk mengekspresikan kreativitas menggunakan clay sebagai medium. Karya seni rupa yang dihasilkan tidak hanya menonjolkan keindahan visualnya saja, tetapi juga memberikan pengalaman multisensorial kepada penyandang disabilitas tunanetra dan mereka yang menikmatinya dapat merasakan karya seni rupa dengan pengalaman yang baru. Kata kunci: inklusivitas seni rupa, disabilitas tunanetra, seni lukis, expanded painting
dengan pengalaman yang baru.

Kata kunci: inklusivitas seni rupa, disabilitas tunanetra, seni lukis, expanded painting

References

Alexander Alberro, B. S. (1999). Conseptual Art; A Critical Anthology. London: The MIT Press.

Bishop, C. (2012). Artificial hells: participatory art and the politics ofspectatorship. London: Verso.

Karja, I. W. (2020). Komologi Bali, Visualisasi Warna Pangider Bhuwana dalam Seni Lukis Kontemporer. Denpasar: UNHI PRESS.

Moelyono. (1997). Seni Penyadaran. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya. Rounthwaite, A. (2017). Asking the Audience: Participatory Art in 1980s New York. London: University of Minnesota.

Soleh, A. (2016). Aksesibilitas Penyandang Disabilitas terhadap Perguruan Tinggi; Studi Kasus di Empat Perguruan Tinggi Negeri di Yogyakarta. Sewon Bantul: LKiS Pelangi Aksara.

Titmarsh, M. (2017). Expanded Painting: Ontological Aesthetics and the Essence of Colour. London: Bloomsbury Publishing.

Dike Nabila Trivinggar, K. G. (2019). Polusi Cahaya dan Sirnanya Estetika Alami Langit Gelap Di Kota Bandung. e-Proceeding of Art & Design :, 9-10.

Firdaus, T. (2020). urasi Pameran Seni Rupa "Menerjang Batas" Karya. Digilib ISI Yogyakarta, 8-12.

Hasim, W. R. (2019). Komunikasi Antarpribadi Para Difabel Dalam Proses Pementasan Teater Di Smile Motivator Bandung. Universitas Kebangsaan, 18-19.

Indra Cahaya Tresna, T. A. (2021). Analisis Semiotika Motivasi Belajar Pada Film Nussa. e-Proceeding of Art & Design.

Rahmah, S. (2019). Penerimaan Diri Bagi Penyandang Disabilitas Netra. JURNAL ILMU DAKWAH.

Sitompul, T. A. (2018). Metode Ajar Seni Rupa yang Efektif Bagi Anak Difabel Di Indonesia. Technical Report. ISI Surakarta, 5.

Thoma, S. (2013). An Art History & Art Making Course for Blind Adults at the Philadelphia Museum of Art. Disability Studies Quarterly.

Wiguna, I. P. (2021). Use of Municipal Solid Waste and pigment fluorescent as a . IOP Publishing Ltd, 3.

Published

2024-12-01

Issue

Section

Program Studi S1 Seni Rupa Murni