REPRESENTASI INFERIORITY COMPLEX DALAM PENCIPTAAN KARYA SENI LUKIS INTERAKTIF CAHAYA
Abstract
Menjadi anak bungsu dalam keluarga bisa menimbulkan perasaan inferior, pendapat anak bungsu sering diremehkan karena usianya yang paling muda. Kakak menjadi role model dengan pencapaian karir dan kehidupan yang sukses sering kali membuat anak bungsu merasa tidak berharga saat di fase pencarian jati diri. Ditambah pengaruh sosial media dan budaya pamernya, banyak individu yang meragukan kemampuan diri mereka sendiri, sehingga muncul rasa malu dan takut untuk bertindak. Kondisi ini disebut Inferiority Complex, yang timbul karena rasa ketidakcukupan baik fisik maupun psikologis, aktual atau imajiner. Menggunakan seni interaktif karya yang dibuat memadukan medium elektronika teknologi LED dan sensor sentuh dan seni Lukis. Representasi karya ini mengambil konsep dari istilah "Midas touch" atau dalam Bahasa Indonesia <tangan dingin= menggambarkan kemampuan seseorang untuk membuat apa pun yang mereka kerjakan menjadi sukses, seperti sentuhan ajaib yang mengubah segala sesuatu menjadi emas. Karya "You Are Gold Enough" dirancang untuk mengingatkan audiens bahwa mereka berharga dan memiliki keunikan, membantu mengatasi perasaan inferior, dan membangun self-esteem yang lebih tinggi, serta mendorong individu untuk lebih percaya diri dalam pertanyaan tentang nilai diri mereka.
Kata kunci: Inferiority Complex, Midas Touch, Self Esteem, Seni interaktif.
References
Adeka, P. (2019). The Concept of Inferiority and Superiority Complex.
Adler, A. (2013). Understanding human nature. Routledge.
Albala, M. (2022). The Landscape Painter’s workbook: Essential Studies in Shape, Composition, and Color. For Artists.
Anderson, B. C. D. (2021).
Ariyantiningsih, A., Endriawan, D., & Maulana, T. A. (2023). VISUALISASI BENTUK BAYANGAN UNTUK MENGETAHUI IMAJINASI MANUSIA MELALUI SENI INSTALASI DAN PERFORMANS ART. eProceedings of Art & Design, 10(4).
Çil, H., Aydıngüler, M. H., & Boyraz, B. (2023). Yves Klein: An Actual Review of His Anthropometries and Monochromes. İnsan ve Toplum Bilimleri Araştırmaları Dergisi, 12(3), 2258-2278.
Derin, S., & Şahin, E. S. (2023). Inferiority and Superiority Complex: Examination in Terms of Gender, Birth Order and Psychological Symptoms. Primenjena Psihologija, 16(3), 375–401. https://doi.org/10.19090/pp.v16i3.2463
DURAC, L. Consequences of the Inferiority Feeling in the Human Personality Development.
Edmonds, E. (2022). The Art of Interaction: What HCI Can Learn from Interactive Art. Swiss: Springer International Publishing.
Johan, W.P., Herdiansyah, H., & Dimyati, D. (2022). The Correlation Between Inferiority Complex And Social Interactions In Adolescents. Makna: Jurnal Kajian Komunikasi, Bahasa, dan Budaya.
Koch, K. (1949). Der Baumtest. Der Baumzeichenversuch als psychodiagnostisches Hilfsmittel. Verlag Hans Huber, Bern, Switzerland
Montela, E., Wiguna, I. P., & Yuningsih, C. R. (2023). PENGGAMBARAN DISTOPIA DALAM SENI INTERAKTIF. eProceedings of Art & Design, 10(4).
MSn, E. B. S., & Sumardjo, D. J. (2021). Pengantar Studi Seni rupa. Deepublish.
Prabawa Wiguna, I. (2019). Medium cahaya sebagai bahasa lukisan (The medium of light as the language of painting). Seminar Nasional Sandyakala, 164.
Rahmania, D., Adiwinata, A. H., & Sugandhi, N. M. (2023). INFERIORITY FEELINGS FROM COMPETITIVE UPWARDS: ADOLESCENT’S DIGITAL CULTURE AND SCHOOL COUNSELOR’S ROLE. EDUCATIONE: Journal of Education Research and Review, 1(2), 55–62. https://doi.org/10.59397/edu.v1i2.16
Savaş, E. B., Verwijmeren, T., & van Lier, R. (2021). Aesthetic Experience and Creativity in Interactive Art. Art & Perception, 9(2), 167-198. https://doi.org/10.1163/22134913-bja10024
Strindlund, N. (2019). Exploring relations between Interaction attributes and Pleasures in multisensory interactive art. Interaktions Design Bachelor. https://muep.mau.se/handle/2043/29675
Yuningsih, C. R., & Rachmawanti, R. (2022). Impelentasi Teknologi Dalam Teknik Melukis. VISUALIDEAS, 2(2), 76-82.