PERANCANGAN ENVIRONMENT 3D UNTUK ANIMASI 2D SEBAGAI UPAYA PENCEGAHAN HEMODIALISIS DI USIA 10–24 TAHUN
Abstract
Beberapa bulan terakhir, kasus cuci darah pada usia muda di Indonesia mengalami
peningkatan signifikan. Banyak anak, remaja, dan dewasa masih mengabaikan dampak konsumsi
gula dan garam berlebihan, jarang minum air putih, serta kurang beraktivitas fisik. Penelitian ini
bertujuan untuk mengurangi angka kasus cuci darah melalui media animasi edukatif yang
menyasar remaja. Animasi ini dirancang untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga
kesehatan ginjal dengan pola hidup sehat, konsumsi air putih yang cukup, dan rutin berolahraga.
Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif, dengan teknik pengumpulan data berupa
survei, wawancara, observasi, dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
penggunaan environment menarik dan teknik animasi yang tepat sangat berpengaruh dalam
penyampaian pesan edukatif. Penggunaan animasi 3D pada environment mampu meningkatkan
realisme, seperti menampilkan kondisi ginjal dan prosedur cuci darah secara jelas serta visualisasi
ruang perawatan atau klinik. Visualisasi ini memudahkan penonton memahami pentingnya
menjaga kesehatan ginjal. Dengan pendekatan visual yang informatif dan menarik, diharapkan
pesan yang disampaikan lebih mudah dipahami dan diingat, sehingga dapat membantu
menurunkan angka cuci darah di usia muda.Kata kunci: animasi edukasi, environment 3D,
hemodialisis, kesehatan ginjal, remaja
Kata Kunci: Environment 3D, animasi, hemodialisis, cuci darah, pola hidup sehat
References
Angelina. (2016). Animasi interaktif penyuluhan hemodialisis. Jurnal Desain Komunikasi, 5(2), 112–
Lozano, R., Naghavi, M., Foreman, K., Lim, S., Shibuya, K., Aboayans, V., et al. (2020). Global and
regional mortality from 235 causes of death for 20 age groups in 1990–2010: A systematic
analysis for the Global Burden of Disease Study 2010.
https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC7015670/
Praditya, D. R. (2022). Nonverbal communication through visual storytelling of leaving home
animated films. International Journal of Visual Design, 16(1), 23–34.
https://www.researchgate.net/publication/365315435
Stengel, B., Tarver-Carr, M. E., Powe, N. R., & Eberhardt, M. S. (2004). Chronic kidney disease and
risk factors. Nephrology Dialysis Transplantation, 19(6), 1441–1449.
Wahyu. (2016). Pengaruh kebersihan terhadap perkembangan anak usia dini. Jurnal Pendidikan
Anak, 4(1), 88–96.
Walker-Harding, L., Rea, K. E., et al. (2017). Defining youth age ranges for global health purposes.
The Lancet, 390(10104), 758–759.
Website/ E-Book
Brathwaite, K. (2017). Color psychology in design. https://www.colorpsychology.org/
Jameson, J. L., Fauci, A. S., Kasper, D. L., Hauser, S. L., & Longo, D. L. (2018). Harrison's Principles of
Internal Medicine (20th ed.).
https://accessmedicine.mhmedical.com/content.aspx?sectionid=39961159&bookid=372
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Data nasional hemodialisis 2021–2023.
Prudential Indonesia. (2023). Kenali penyebab gagal ginjal sejak dini.
Siloam Hospitals. (2023). Prosedur dan tujuan hemodialisis (cuci darah).
https://www.siloamhospitals.com/
Riskesdas. (2023). Laporan Riset Kesehatan Dasar 2018 dan pembaruan 2023. Badan Litbangkes,
Kemenkes RI.
Video Tiktok
TikTok. (2023). Cegah gagal ginjal sejak dini [Video].
https://www.tiktok.com/@bukankatanyadokofficial/video/7299016714782657798
TikTok. (2024). Animasi edukasi kesehatan ginjal [Video].
https://www.tiktok.com/@kliksource/video/7417453258660236549
TikTok. (2024). Pentingnya menjaga kesehatan ginjal [Video].
https://www.tiktok.com/@ummu.kabsyah/video/7397986736032304390



