Penyutradaraan Film Fiksi Dear Darling Tentang Ujaran Kebencian Di Instagram Terhadap Wanita Pengguna Makeup
DOI:
https://doi.org/10.25124/eoe.v6i3.10995Abstrak
Abstrak
Ujaran kebencian yang terjadi di sosial media tidak hanya menjadi normalisasi sebagai dalih menutupi kekurangan diri namun juga menyulut ujaran kebencian dari pengguna yang lain karena dianggal normal. Padahal sama halnya dengan bicara secara tatap muka, dalam berkomentar juga harus dengan etika yang baik. Pada akhirnya, ujaran kebencian yang dimaksudkan sebagai kritik tersebut tidak berpengaruh terhadap penampilan pengguna makeup secara fisik, namun berdampak traumatis terhadap psikologis pengguna tersebut. Lebih jauh lagi, jika ujaran kebencian tersebut disampaikan secara publik, korban tidak hanya pengguna yang dituju namun lebih banyak pengguna lain yang melihat dan ikut melontarkan ujaran kebencian tersebut.
Kata kunci: Eksistensi, Ujaran Kebencian, Makeup
Abstract
Speeches of hatred that occur on social media not only become normalization as a pretext to cover up lack of self-esteem but also ignite the utterances of hatred from other users because they are normal. Even though it is the same as talking face to face, in commenting also must be with good ethics. In the end, the utterance of hatred which was intended as a criticism did not affect the appearance of users of makeup physically, but had a traumatic impact on the user's psychology. Furthermore, if the utterance of hate is delivered publicly, the victim is not only the intended user but more other users see and participate in uttering the hate speech.
Keywords: Existency, Hate Speech, Makeup



