PERANCANGAN ULANG KANTOR PT. SELERIS MEDITEKNO INTERNASIONAL DENGAN PENDEKATAN AKTIVITAS
Abstrak
Penelitian ini membahas perancangan ulang kantor PT. Seleris Meditekno Internasional dengan menggunakan pendekatan aktivitas sebagai dasar utama dalam proses perancangan interior. Latar belakang penelitian ini berangkat dari kondisi eksisting kantor yang masih bersifat formal dengan tata ruang tertutup dan hierarkis, sehingga membatasi interaksi antarpegawai, mengurangi fleksibilitas ruang, serta kurang mendukung produktivitas dan dinamika kerja modern. Kondisi tersebut mendorong perlunya perancangan ulang yang lebih responsif terhadap kebutuhan pengguna ruang. Pendekatan aktivitas diterapkan untuk memahami kebutuhan pengguna secara komprehensif dengan memperhatikan pola kerja, intensitas dan jenis interaksi, alur aktivitas harian, serta tingkat kenyamanan pegawai dan pengunjung. Proses analisis perancangan mencakup berbagai aspek interior, meliputi pengolahan tata ruang, sistem pencahayaan alami dan buatan, penghawaan, akustik, pemilihan material, furnitur, serta sistem sirkulasi yang mendukung kelancaran aktivitas. Setiap aspek dianalisis untuk menciptakan ruang kerja yang efisien, ergonomis, dan adaptif. Hasil analisis tersebut menjadi dasar dalam perumusan konsep desain interior yang lebih terbuka, fleksibel, dan mampu mengakomodasi kebutuhan kolaborasi maupun kerja individual. Penelitian ini menghasilkan konsep perancangan ruang kerja yang tidak hanya meningkatkan efisiensi, kenyamanan, dan produktivitas, tetapi juga mencerminkan visi perusahaan dalam menciptakan lingkungan kerja yang inovatif, komunikatif, dan berorientasi pada pengguna. Kata kunci: kantor, PT. Seleris Meditekno Internasional., pendekatan aktivitas.
Referensi
Daulay, D. A., Silalahi, M., Sisca, S., & Dharma, E. (2019). PENGARUH TATA LETAK DAN PEGAWASAN TERHADAP KINERJA PEGAWAI PADA PT BANK SUMUT
CABANG SYARIAH PEMATANGSIANTAR. Maker: Jurnal Manajemen, 5(2), 25– https://doi.org/10.37403/maker.v5i2.116
Dellinger, S. (1989). Psycho-geometrics: How to use geometric psychology to influence people. Simon & Schuster.
Designer’s guide to color. (1984). Chronicle Books (CA).
Gordon, G. (2015). Interior lighting for designers. John Wiley & Sons.
Hendraningsih, Dkk. (1982). Peran, kesan dan pesan bentuk-bentuk arsitektur.
Kurniawan, K. R., Perdana, A. B., & Widiastuti, I. (2024). The loss of Austronesian saddle roof in the vernacular architecture of Java, Indonesia. International Society for the Study of Vernacular Settlements, 11(2), 582–602. https://doi.org/10.61275/isvsej-2024-11-02-36
Mirzah, A. L., Sheha Gunawan, A. N., & Salayanti, S. (2018). PENERAPAN
PENCAHAYAAN BUATAN PADA INTERIOR RESTORAN ATMOSPHERE
BANDUNG DI MALAM HARI. Idealog: Ide Dan Dialog Desain Indonesia, 2(2), https://doi.org/10.25124/idealog.v2i2.1225
Panero, J., & Zelnik, M. (2014). Human dimension and interior space: A source book of design reference standards. Watson-Guptill.
Prasetya, R. D. (2012). PENGARUH KOMPOSISI WARNA PADA RUANG KERJA TERHADAP STRES KERJA. LINTAS RUANG: Jurnal Pengetahuan & Perancangan Desain Interior, 1(1). https://doi.org/10.24821/lintas.v1i1.13
Riley, S. (2018). Mindful design: How and why to make design decisions for the good of those using your product. Apress.
Simonds, J. O., & Starke, B. (2010). Landscape Architecture, Fourth Edition. McGraw Hill Professional.
Wismoyo, E. A., Hadiansyah, M. N., Putri, A., Awaloka, F., Yashila, L., & Nurul, R. (2024). Atumics methods implementation: Work and eat activity improvement in warunk upnormal as study case. Journal of Architectural Research and Design Studies, 8(1). https://doi.org/10.20885/jars.vol8.iss1.



