Analisis Kualitas Udara Dalam Ruangan Pada Kantor Terbuka Di Universitas Telkom

Hanif Shidki, Indra Chandra, Ery Djunaedy

Abstract

Abstrak Penelitian dilakukan di empat ruangan kantor terbuka di kawasan Universitas Telkom selama 24 jam untuk parameter non-biologi, serta dua kali pengukuran pada pagi dan siang hari untuk parameter biologi. Alat ukur non-biologi yang digunakan berbasis low-cost sensor yaitu sensor PM2.5 dan CO2, yang dilengkapi dengan sensor temperatur (T) dan kelembapan relatif (RH). Hasil pengukuran menunjukkan bahwa konsentrasi rata-rata 24 jam PM2.5 dan 8 jam CO2 di dalam ruangan adalah 82 µg/m3 dan 710 ppm pada ruangan A, 86 µg/m3 dan 1044 ppm pada ruangan B, 85 µg/m3 dan 1105 ppm pada ruangan C, serta 1259 ppm pada ruangan D. Konsentrasi tersebut telah melebihi baku mutu yang diprasyaratkan (37,5 µg/m 3 dari SS 554 Singapura atau 35 µg/m3 dari PerMenKes RI No. 1077 Tahun 2011 untuk partikulat, serta 1000 ppm dari PerMenKes RI No. 48 Tahun 2016 untuk CO2). Tingginya konsentrasi partikulat (mencapai 72 µg/m3 ) dan karbon dioksida (1300-1600 ppm) pada jam kerja, salah satunya disebabkan oleh perancangan ruangan yang tidak memiliki sistem ventilasi. Pertukaran udara yang tidak terkontrol menyebabkan masuknya partikulat dari udara luar ke dalam ruangan, serta menyebabkan penumpukan CO2 dikarenakan stagnasi udara ruangan. Pada pengukuran mikroorganisme, didapatkan bahwa sebagian besar bakteri yang ada di udara ruangan tersebut adalah staphylococcus, streptococcus, dan enterobacteriaceae, yang secara umum ditemukan pada tubuh manusia. Kondisi udara ruangan seperti temperatur, kelembapan, dan adanya makanan/materi biologi, sangat optimal bagi bakteribakteri tersebut untuk berkembang biak. Oleh karenanya, permasalahan kualitas udara dapat diatasi melalui perancangan ataupun renovasi ruangan ber-AC agar memiliki sistem ventilasi yang terfiltrasi serta memberikan sirkulasi udara yang baik di dalam ruangan. Kata Kunci: Kualitas udara dalam ruangan, PM2.5, CO2, Staphylococcus, Streptococcus, Enterobacteriaceae. Abstract The research was conducted on four open offices in the Telkom University area, measurements for every office are done for 24 hours, and two times (in the morning and the afternoon) for the biological parameters. The non-biological measuring devices used for the research are low-cost based sensors which are PM2.5 sensors, CO2 sensors, and temperature (T) sensors with relative humidity (RH) sensors. The indoor air quality shown from the measurements did not qualify the standards/regulations applicable. Measurements shows that the 24-hour average of PM2.5 concentrations and 8-hour average of CO2 concentrations are 82.3 µg/m3 and 710 ppm in room A, 86 µg/m3 and 1044 ppm in room B, 84.5 µg/m3 and 1105 ppm in room C, 1259 ppm in room D. These concentrations exceed the quality standards required (37.5 µg/m3 from Singaporean SS 554 or 65 µg/m3 from PerMenKes RI No.1077 Year 2011 for particulates, also 1000 ppm from PerMenKes RI No. 48 Year 2016 for CO2). The high concentrations of particulates (reaching 72 µg/m3 ) and carbon dioxide (1300-1600 ppm) in working hours, can be caused by the design of the room which have no ventilation systems. The uncontrolled exchange of air causes the entrance of particulate matters from the outdoor air, and also causes the buildup CO2 due to the stagnation of air in the room. The measurements of microorganisms shows that the majority of bacterias in the indoor air is of the staphylococcus, streptococcus, and enterobacteriaceae genus, which are commonly found in human bodies. Indoor air conditions which are temperature, humidity, and the presence of food/biological materials, are very optimal for the said bacterias to breed and multiply. This states that condition of the indoor air (temperature, humidity, and presence of biological materials) are very optimal for said bacterias to multiply. Therefore, the problems of indoor air quality can be solved through designing and/or renovating the air-conditioned rooms to have a ventilations system which gives enough filtered air for the rooms and its inhabitants. Keywords: Indoor air quality, PM2.5, CO2, Staphylococcus, Streptococcus, Enterobacteriaceae.

Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.
max_upload :0