Analisis Paparan Bioaerosol Secara Personal Dalam Kegiatan Sehari-hari

Irma Zauhar Nafisah, Indra Chandra, Amaliyah Rohsari Indah Utami

Abstract

Abstrak
Selain konsentrasi gas dan partikulat di udara yang berdampak terhadap tingkat polusi udara, bioaerosol
dapat memberikan kontribusi pencemaran sampai 30% di lingkungan perkotaan. Secara keseluruhan
manusia dapat terpapar melalui polutan non-biologi, seperti materi partikulat berukuran 2,5 mikrometer
ke bawah (PM2.5) serta gas Karbon Dioksida (CO2), ataupun mikroorganisme (biologi). Manusia yang
terpapar polutan berdampak buruk terhadap kesehatan seperti toksik akut, termasuk demam, malaise, dan
penurunan fungsi paru yang diakibatkan oleh infeksi bakteri. Penelitian ini bertujuan untuk
mengidentifikasi hubungan bioaerosol dengan parameter non-biologi (T, RH, PM2.5, CO2, kecepatan angin,
arah angin) serta mengetahui potensi paparan bioaerosol (bakteri) secara personal. Pengukuran dilakukan
di Tempat Pembuangan Sampah Terbuka (TPST) sekitar kampus pada 13 Agustus 2020. Hal ini bertujuan
untuk melihat kondisi ekstrem pertumbuhan bakteri dan persebaran aerosol ke daerah sekitarnya.
Mekanisme pengukuran sampel biologi dilakukan secara pararel dengan alat ukur non-biologi pada pagi
(sebelum pembakaran) dan sore hari (setelah pembakaran) selama dua menit dengan dua kali pengulangan.
Pada penelitian ini digunakan alat sampling mikroorganisme secara aktif dengan menggunakan Andersen
Singler Stage Impactor sebagai perangkap bakteri ke dalam media PCA. Sampel media kemudian
diidentifikasi sampai pada tingkatan genus menggunakan metode kultur. Sementara itu, Low-Cost Sensor
digunakan untuk mengukur parameter non-biologi yang digunakan untuk mengetahui kualitas udara serta
faktor metelorologi. Hasilnya, bakteri yang teridentifikasi tidak bisa dihitung secara kuantitatif. Hal ini
karena tingginya kontaminasi limbah sampah organik dan anorganik di TPST, serta pengambilan waktu
sampel yang berlebihan. Hal ini berdampak pada tingginya pertumbuhan bakteri sehingga terjadi
penumpukan pada media PCA. Meskipun demikian, beberapa bakteri teridentifikasi dari genus Bacillus
Sp dan Micrococcus pada pengukuran pagi dan sore hari dengan konsentrasi CO2 dan PM2.5 rata-rata
masing-masing sebesar 584-816 ppm dan 86-124 µg/m³ pada kelembapan relatif 97-100% dan temperatur
26 oC. PM2.5 yang dihasilkan terhitung melebihi ambang batas karena pembakaran sampah secara terusmenerus. Sumber emisi lokal ini mengakibatkan terdampaknya lingkungan sekitar (polutan tersebar ke
arah barat dan barat daya dengan kecepatan 2 m/s) sehingga mempengaruhi kualitas udara di dalam
ruangan yang berada disekitarnya.
Kata kunci : Andersen sampler, bioaerosol, CO2, PM2.5.
Abstract
Exceeded level of gas and particulates concentrations in the air have an impact on air pollution, one of
the gases is bioaerosol that it contribute up to 30% of pollution in urban environments. In general, humans
can be exposed through non-biological pollutants, such as particulate matter less than 2.5 micrometers in
size (PM2.5) and carbon dioxide (CO2), or microorganisms (such as bacteria). Humans are exposed to
adverse health effects such as acute toxicity, including fever, malaise, and decreased lung function caused
by bacterial infections. This study aims to identify the relationship between bioaerosol and non-biological
parameters (T, RH, PM2.5, CO2, wind speed, wind direction) and to determine the potential exposure to
bioaerosol (bacteria) personally. Measurements were carried out at the Open Garbage Disposal Site
(TPST) around the campus on August 13, 2020. This aims to see the extreme conditions for bacterial
growth and the spread of aerosols to the surrounding area. The mechanism for measuring biological
samples is carried out in parallel with non-biological measuring instruments in the morning (before
burning) and in the evening (after burning) for two minutes with two repetitions. In this study, an active
microorganism sampling tool was used by using the Andersen Singler Stage Impactor to trap bacteria into
PCA media. The media samples were then identified to the genus level using culture methods. Meanwhile,
the Low-Cost Sensor is used to measure the non-biological parameters used to determine air quality and
metelorological factors. As a result, the identified bacteria cannot be counted quantitatively. This is due to
the high contamination of organic and inorganic waste at the TPST, as well as excessive sampling time.
This has an impact on the high growth of bacteria resulting in a buildup on the PCA media. However,
several bacteria were identified from the genus Bacillus Sp and Micrococcus in the morning and evening
measurements with mean CO2 and PM2.5 concentrations of 584-816 ppm and 86-124 µg/m³ respectively at
a relative humidity of 97-100%. and a temperature of 26 oC. The PM2.5 produced is considered to have
exceeded the threshold due to continuous burning of waste. This local emission source has an impact on
the surrounding environment (pollutants are scattered to the west and southwest at a speed of 2 m/s) so
that it affects indoor air quality around it.
Keywords: Andersen sampler, bioaerosol, CO2, PM2.5.

Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.
max_upload :0