Perancangan dan Analisis Sistem Komunikasi Serat Optik Link Samarinda-Penajam Paser Utara Menggunakan Teknologi DWDM
DOI:
https://doi.org/10.34818/eoe.v9i6.18912Abstract
Abstrak — Di era modern ini, teknologi telekomunikasi telah dikembangkan dengan menawarkan proses pengiriman dan menerima data dengan kecepatan tinggi dan dapat mencapai jarak jauh dengan biaya murah dibandingkan dengan mengirim data menggunakan tembaga. Teknologi tersebut yaitu kabel serat optik. Salah satu teknologi dari teknik transmisi menggunakan serat optik adalah DWDM (Dense Wavelength Division Multiplexing) yang memanfaatkan cahaya dengan panjang gelombang yang berbeda-beda sebagai kanalkanal informasi. Pada Tugas Akhir ini menganalisis performansi Dense Wavelength Division Multiplexing (DWDM) Jaringan Backbone link Tenggarong hingga Penajam Paser Utara sebagai daerah yang ditetapkan sebagai Ibukota baru Republik Indonesia, panjang link dari Tenggarong hingga ke Penajam Paser Utara adalah 234 km. Pada proses perancangan dan simulasi ini juga menggunakan parameter-parameter seperti parameter input yang meliputi bit rate, bandwidth, dan margin system. Selain itu juga menggunakan parameterparameter performansi seperti CW Laser, serap optik SMF, EDFA, dan juga photodetektor. Nilai Bit Error Rate terbesar yang diperoleh dari hasil simulasi ini adalah 8,21×10-8 pada kanal 1, sedangkan nilai Bit Error Rate terkecil yang diperoleh dari hasil simulasi adalah 1,85×10-8 yang diperoleh dari kanal 2. Sedangkan untuk memperoleh nilai bit error rate yang ideal, diperlukan nilai SNR yang berkisar antara 18 hingga 22. Kata kunci — Dense Wavelength Division Multiplexing (DWDM)References
[1] H. Nugroho, “Pemindahan ibu kota baru negara
kesatuan republik indonesia ke kalimantan timur:
Strategi pemenuhan kebutuhan dan konsumsi
energi,” Bappenas Working Papers, vol. 3, no. 1, pp.
33–41, 2020.
[2] D. Sartika, “Efisiensi jaringan backbone serat optik
pt. indosat link surabaya– banyu urip dengan
teknologi metro core connect dan dwdm,” JURNAL
TEKNOLOGI INDUSTRI, vol. 2, 2021.
[3] K. M Evan, “Analisis performansi jaringan dense
wavelength division multiplexing (dwdm) backbone
link: studi kasus cirebon-tegal,” Ph.D. dissertation,
Institut Teknologi Telkom Purwokerto, 2017.
[4] I. Umaternate, M. Z. Saifuddin, H. Saman et al.,
“Sistem penyambungan dan pengukuran kabel fiber
optik menggunakan optical time domain
reflectometer (otdr) pada pt. telkom kandatel
ternate,” PROtek: Jurnal Ilmiah Teknik Elektro, vol.
3, no. 1, pp. 26–34, 2016.
[5] M. JANNAH, “Performansi sistem twdm-pon
menggunakan nz-dsf dan dcf pada teknologi ngpon2,” Ph.D. dissertation, Universitas Islam Negeri
Sultan Syarif Kasim Riau, 2018.
[6] R. A. I. Asyari, Firdaus, E. Indarto, I. Nurcahyani,
“Perancangan Jaringan Backbone dan Distribusi 4G
LTE Di Sleman Berbasis Jaringan Optik,” Pros.
SNATIF, 2017 J. N. Downing, Fiber-optic
communications. Thomson/Delmar Learning, 2005.
[7] Ramadhana, Argymnasthiar, Erna Sri Sugesti, and
Rina Pudji Astuti. "Perancangan Jaringan Serat Optik
Untuk Komunikasi Lte Penumpang Pada Kereta
Cepat Jakarta-surabaya Sub Jakarta-cirebon."
eProceedings of Engineering 9.2 (2022).
[8] Nugraha, Aditya Perkasa Whira, et al. "Perancangan
Jaringan Backbone Optik 4G LTE DWDM Di
Kabupaten Bandung Selatan." Prosiding SENIATI
(2019): 141-148.
[9] A. R. Ginanjar, A. Hambali, and M. irfan Maulana,
“Analisis dan simulasi pengaruh dispersion
compensating fiber pada link optik berdasarkan jarak
dan bit rate,” eProceedings of Engineering, vol. 4, no.
2, 2017.



