Evaluasi Sistem Pendinginan Malam Hari Di Kota Bandung

Mochamad Firman Muzaqi Alhaq, Tri Ayodha Ajiwiguna, M.Ramdlan kirom

Abstract

Abstrak Nocturnal cooling merupakan alternatif pemanfaatan energi yang didapat dari radiasi stratosfer malam hari. Sistem nocturnal cooling berkerja secara pasif tanpa ada alat bantu lain dan dapat dilihat terjadi perbedaan antara temperatur dalam sistem dengan lingkungan. Pada penelitian ini akan dirancang sistem yang terisolasi dengan bagian atas menggunakan kaca sebesar 45 x 45 cm yang memiliki ketebalan sebesar 3 mm dan memanfaatkan lempengan stainless steel dan aluminium sebesar 40 x 40 cm yang memiliki ketebalan 2 mm berwarna hitam sebagai objek penerima radiasi. Pada bagian dalam terdapat fluida sebagai media yang akan didinginkan dan sebagai alat ukur menggunakan sensor temperatur DS18B20. Pengujian dilakukan pada malam hari yaitu pukul 20.00 sampai 05.00 WIB. Data hasil penelitian menunjukan bahwa terjadi fenomena nocturnal cooling. Pada kedua sistem mengalami perbedaan selisih penurunan temperatur, pada stainless steel mengalami penurunan sebesar 3,25 °C dan pada sistem yang menggunakan aluminium mengalami penurunan sebesar 3 °C. Penurunan sistem yang menggunakan stainless steel mengalami penurunan temperatur lebih besar dibandingkan aluminium, karena stainless steel memiliki nilai emisivitas 0,98 lebih besar dari aluminium yang memiliki nilai emisivitas sebesar 0,82. ada pengujian sistem bergantung pada kondisi aktual seperti berawan dan cerah. Pada kondisi berawan selisih temperatur dari kedua sistem dengan lingkungan mengalami perbedaan yang kecil, berbanding terbalik dengan kondisi cerah. Penurunan temperatur terbesar rata-rata terjadi diantara pukul 23.30 sampai 00.30 WIB. .

Kata kunci : nocturnal cooling, stratosfer, radiasi, emisivitas Abstract
Nocturnal cooling is an alternative energy utilization derived from night stratosphere radiation. The nocturnal cooling system works passively without any other assistive devices and it can be seen that there is a difference between the temperature in the system and the environment. In this study will be designed an isolated system with the top using a glass of 45 x 45 cm which has a thickness of 3 mm and uses a stainless steel plate and aluminum of 40 x 40 cm which has a thickness of 2 mm black as the object of receiving radiation. On the inside there is a fluid as a medium to be cooled and as a measuring instrument using the temperature sensor DS18B20. Tests are carried out at night at 20.00 to 05.00 WIB. The results of the study showed that there was a nocturnal cooling phenomenon. In both systems, there was a difference in the difference in temperature reduction, in stainless steel decreased by 3.25 ° C and in systems using aluminum decreased by 3 ° C. The decrease in the system using stainless steel has a greater temperature decrease than aluminum, because stainless steel has an emissivity value of 0.98 greater than aluminum which has an emissivity value of 0.82. there is a system test depending on actual conditions such as cloudy and bright. In cloudy conditions the temperature difference of the two systems with the environment has a small difference, inversely proportional to the clearly conditions. The largest average temperature drop occurred between the hours of 11:30 to 12:30pm. Keywords: nocturnal cooling, stratosphere, radiation, emissivity

Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.
max_upload :0