Analisa Dan Perencanaan Implementasi Radio Trunking Digital Pada Uptd Pemadam Kebakaran Untuk Wilayah Dki Jakarta

Authors

  • Harry Pratama Telkom University
  • Heroe Wijanto Telkom University
  • Kris Sujatmoko Telkom University

Abstract

Radio Trunking Digital adalah salah satu teknologi telekomunikasi wireless digital yang distandarkan oleh badan standardisasi eropa yaitu European Telecommunication Standard Institute ( ETSI ). Radio trunking digital diciptakan untuk memenuhi kebutuhan jaringan telekomunikasi wireless khusus. Di Negara eropa, teknologi ini ditujukan untuk keperluan militer, kepolisian, bandara, perusahaan pertambangan dan perusahaan transportasi. Tetra dapat melayani layanan voice dan data.

Salah satu hasil pengerjaan tugas akhir ini adalah jumlah base station yang diperlukan untuk mengcover dan menampung permintaan trafik yang dibuthkan oleh Unit Pelaksana Teknis ( UPTD ) Pemadam Kebakaran di wilayah DKI Jakarta. Untuk mendapatkan jumlah sel yang paling optimum, digunakan dua buah metode yaitu Planning Base on Capacity dan metode Planning Base on Coverage. Metode planning Base on capacity adalah metode planning yang menitikberatkan pada kemampuan suatu site untuk melayani penggunaan kanal trafik. Sedangkan planning base on coverage adalah suatu metode planning yang menitikberatkan kemampuaan site untuk mengcover suatu lokasi yang diukur berdasarkan parameter-parameter radio. Setelah dilakukan perencanaan dengan kedua metode tersebut kemudian hasilnya dibandingkan dan selanjutnya ditentukan berapa jumlah site yang paling optimum untuk mengcover dan menampung penggunaan saluran di daerah tersebut. Untuk menyelesaikan permasalahan diatas, parameter yang harus diperhatikan adalah, sensitifitas penerima, Free Space Loss, MAPL, traffic tiap pelanggan, jumlah pelanggan, luas wilayah dan EIRP.

Hasil pengerjaan tugas akhir ini adalah jumlah base station yang diperlukan untuk mencover area Wilayah DKI Jakarta serta dapat menampung permintaan trafik dari pengguna. Pada skenario 1, dibutuhkan 6 site dengan lokasi plotting pada Sudin dan pos pemadam agar memudahkan monitoring dan controling. Pada skenario ini dihasilkan sinyal terima paling rendah sebesar -95 dBm, number of server pada overlaping zone sebesar 4 server dan Bit of Error Rate sebesar 0<= BER< 0,09. Pada sisi backhaul, dari 6 link yang direncanakan terdapat 1 link yg mengalami pelemahan sinyal terima sebesar 0,4. Pada skenario 2, dibutuhkan 5 site dengan lokasi plotting pada Sudin, pos pemadam serta lokasi lain yang strategis.Skenario menghasilkan sinyal terima paling rendah sebesar -95 dBm, number of server pada ov erlaping zone sebesar 4 server serta Bit of Error Rate sebesar 0<= BER< 0,09. Pada sisi backhaul, semua link yang direncanakan memenuhi batas clearence dan tidak mengalami pelemahan sinyal terima. 

Downloads

Published

2014-12-01

Issue

Section

Program Studi S1 Teknik Telekomunikasi