Perancangan Jaringan Fiber To The Home Dengan Teknologi 10-Gigabit-Capable Passive Optical Network Di Perumahan Angkasa Indah Permai Banda Aceh
DOI:
https://doi.org/10.34818/eoe.v9i6.19081Abstract
Abstrak— Perumahan Angkasa Indah Permai Banda Aceh merupakan rumah yang sedang dalam tahap pembangunan, sudah tersedia jaringan FTTH hanya saja menggunakan teknologi G-PON, Dalam penelitian ini teknologi yang digunkan adalah XG-PON dengan menghitung kelayakan jaringan dan kinerja desain jaringan FTTH untuk diterapkan dalam pembangunan perumahan Angkasa Indah Permai Banda Aceh. Perhitungan manual Link Power Budget, yaitu total redaman untuk Downstream terdekat adalah sebesar 23.223 dB dan Downstream terjauh adalah sebesar 23.307 dB. Nilai redaman yang didapatkan untuk Upstream terdekat sebesar 24.403 dB dan Upstream terjauh sebesar 24.549 dB. Hasil perhitungan tersebut memenuhi standar sensitivitas yang ditetapkan oleh ITU-T G987.2 yaitu sebesar -28 dBm. Berdasarkan total redaman, daya yang di terima pada Downstream terdekat sebesar -26.223 dBm dan untuk Downstream terjauh sebesar -26.307 dBm. Sedangkan daya yang di terima pada Upstream terdekat sebesar -27.403 dBm dan untuk Upstream terjauh sebesar - 27.549 dBm. Nilai Rise Time Budget, didapatkan nilai waktu batasan adalah 0,07 ns untuk pengkodean NRZ pada link downstream, sedangkan untuk link upstream nilai waktu batasan 0,28 ns untuk pengkodean NRZ. Hasil perhitungan adalah 0.05034 ns untuk link downstream dan 0.0501371 ns untuk link upstream. Hasil dari perhitungan Rise Time Budget didapatkan nilai yang baik karena lebih kecil dari batas waktu pengkodean. Kata kunci— FTTH, XG-PON, Link Power Budget, Rise Time Budget, BER, Q-factor.References
[1] Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika Kementerian
Komunikasi dan Informatika RI, Penggunaan Internat
di Indonesia,
https://aptika.kominfo.go.id/2019/08/penggunaaninternet-di-indonesia/, [diakses pada 19 November
2021,15:30:15 WIB]
[2] Wibisono, Gunawan, dan Hantoro, Gunadi Dwi, Sistem
Jaringan Fiber Optic, Bandung: Informatika Bandung,
2020
[3] Hantoro, Gunadi Dwi, Karyada, Fiber Opti: Teknologi,
Material, Instalasi, dan Implementasi, Bandung:
Informatika Bandung, 2015.
[4] Elang, Nanda, Perbedaan Single mode dengan
Multimode pada kabel fiber optik,
https://www.eltekno.com/2018/02/perbedaan-singlemode-dengan-multimode.html, [diakses pada 15 Januari
2022, 20:02:09 WIB].
[5] Laboratorium Sistem Komunikasi Serat Optik, Modul
Drafter 2016, Universitas Telkom, 2016.
[6] Bougart, Fabrice, Optical Access Transmission: XG-PON
system aspects, presented at FTTH Conference 2010
ITU-T Standardization: from G-PON to 10G XG-PON,
Lisbon, France, 2010.
[7] Dewi, Arita, Perancangan Aplikasi Google Earth
Sebagai Media Pembelajaran Geografis menggunakan
Metode Image Enchancement, Simposium Nasional
RAPI XIII- 2014 FT UMS, 2014.
[8] OptiWave, Opti System: Optical Communication System
and Amplifier Design Software, 2009.
[9] Tanjung, Fajri, Akhmad Hambali, dan R. Bambang Cahyo
Widodo, Perancangan Jaringan Akses Fiber To The Home
(FTTH) Menggunakan Teknologi Coarse Wavelength
Division Multiplexing (CWDM) untuk Perumahan
Pesona Ciwastra Village Bandung, Bandung: Universitas
Telkom.
[10] ITU-T Recommendation G.987.2, 10-Gigabit-capable
passive optical network (XG-PON)systems: Definitions,
abbreviations and acronyms, Amd.1, Agustus 2017.
[11] Khoirul, Amri, Perancangan Jaringan Fiber to the Home
(FTTH) dengan Teknologi Gigabit Passive Optical
Network (GPON) di Wilayah Permata Buah Batu 1,
Bandung, Desember 2015.
[12] ITU-T Recommendation G.652, Characteristics of a
single-mode optical fibre and cable, November 2016.



