Perancangan Jaringan Last-Mile ENodeB dan ODP Berbasis Fiber Optik Di Kecamatan Panjalu, Ciamis, Jawa Barat
DOI:
https://doi.org/10.34818/eoe.v9i6.19087Abstract
Abstrak — Zaman sekarang masyarakat sangat bergantung pada internet sebagai salah satu sumber informasi dan komunikasi. Sudah seharusnya pembangunan layanan akses intenet di Indonesia dilakukan secara adil dan merata bagi seluruh masyarakan di berbagai pelosok negeri, khususnya lastmile network. Last-mile network merupakan istilah pada jaringan akses internet yang berada paling ujung dan paling dekat dengan pelanggan. Salah satu daerah yang belum merasakan manfaat akses internet last-mile secara optimal dan merata adalah Kecamatan Panjalu. Tujuan Penelitian ini adalah membuat rancangan jaringan last-mile dengan eNodeB dan ODP berbasis fiber optik yang menunjang layanan akses internet di Kecamatan Panjalu. Perancangan jaringan last-mile dilakukan berdasarkan capacity planning untuk mentadapkan jumlah eNodeB dan mentukan target user bangunan instansi atau rumah sebagai penentu jumlah ODP yang dibutuhkan. Selanjutnya membuat rancangan link akses dengan mementukan titik STO terdekat yang dihubungkan dengan OLT Kecamatan Panjalu menggunakan fiber optik STM-64. Kemudian OLT akan dihubungkan ke eNodeB dan ODP dengan fiber optik GPON. Hasil simulasi performansi perancangan last-mile network memenuhi semua parameter kelayakan performansi dan pada link akses terjauh yaitu lastmile ODP 17 downstream dengan jarak 9,24 Km memperoleh nilai power received sebesar -20,757 dBm, nilai Q-factor sebesar 7,2707 dan nilai BER sebesar 1, 786 × 10-13 . Kata kunci — eNodeB, GPON, Last-MileReferences
[1] S. S. Ahmed dan M. Islam, “A Technical Review on
Optical Access Networks,” vol. 6, no. December, hal.
79–95, 2018.
[2] F. Karo Karo, E. S. Nugraha, dan F. N. Gustiyana,
“Analisis Hasil Pengukuran Performansi Jaringan 4G
LTE 1800 MHz di Area Sokaraja Tengah Kota
Purwokerto Menggunakan Genex Asistant Versi
3.18,” Aiti, vol. 16, no. 2, hal. 115–124, 2020, doi:
10.24246/aiti.v16i2.115-124.
[3] E. Risma, Mengenal Fiber Optic. Bandung, Jawa
Barat: CV. Media Sainst Indonesia, 2021.
[4] K. A. Mat Sharif, N. A. Ngah, A. Ahmad, K. Khairi,
Z. A. Manaf, dan D. Tarsono, “Demonstration of
XGS-PON and GPON Co-Existing in the Same
Passive Optical Network,” 2018 IEEE 7th Int. Conf.
Photonics, ICP 2018, hal. 2018–2020, 2018, doi:
10.1109/ICP.2018.8533167.
[5] T. Thangappan, B. Therese, A. Suvarnamma, dan G.
S. Swapna, “Review on Dynamic Bandwidth
Allocation of GPON and EPON,” J. Electron. Sci.
Technol., vol. 18, no. 4, hal. 297–307, 2020, doi:
10.1016/j.jnlest.2020.100044.
[6] R. A. I. Asyari, Firdaus, E. Indarto, I. Nurcahyani,
“Perancangan Jaringan Backbone dan Distribusi 4G
LTE Di Sleman Berbasis Jaringan Optik,” Pros.
SNATIF, 2017.
[7] Nst., R. Jufri, R. P. Astuti, A. D. Pambudi, “Analisis
Perencanaan Jaringan Long Term Evolution (LTE)
Di Kota Bandung Menggunakan Metode Optimal
Fractional Frequency Reuse (OFFR) Sebagai
Manajemen Interferensi,” vol. 3, no. 3, hal. 4537–
4543, 2021.
[8] K. E. Agus Farhan, I. Erna Sri Sugesti, dan I. Rina
Pudji Astuti, “Perancangan Dan Analisis Jaringan
Backhaul Serat Optik Untuk Komunikasi LTE
Penumpang Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Sub
Cepu-Surabaya,” Agustus, vol. 7, no. 2, hal. 3847,
2020.
[9] ITU-T, “G.691: Transmission Systems and Media,
Digital Systems and Networks,” 2006.
[10] ITU-T, “G.984.2: Gigabit-capable passive optical
networks (GPON): Physical media dependent (PMD)
layer specification,” 2019, [Daring]. Tersedia pada:



