Presentasi Isu Rasisme Dalam Film Pendek “srawung Lan Tetulung†(analisis Semiotika Dengan Model Ferdinand De Saussure)

Natasya Febriana, Idola Perdini Putri

Abstract

ABSTRAK
Rasisme merupakan suatu konflik yang diakibatkan oleh perbedaan ras, rasisme seperti halnya sebagai bentuk
merendahkan kelompok/ ras lain yang memiliki perbedaan sebagai minoritas. Rasisme mengambil bentuk memperlakukan
orang lain secara berbeda dengan menyediakan berdasarkan konsep ras, masyarakat atau self-thinking yaitu gender, agama,
bahasa, bukan orientasi seksual adalah faktor penentu derajat atau status manusia dalam perilaku sosial. Film pendek
Srawung lan Tetulung adalah salah satu film pendek yang menggambarkan tentang Isu rasisme di Yogyakarata yang
menampilkan adanya sikap saling menghargai antar etnis yang berbeda. Film yang menjadi fokus dalam penelitian ini
mengangkat isu rasisme yang berfokus dengan prilaku etnis Jawa terhadap etnis Papua yang memunculkan prasangka
yang di dapat oleh orang Papua yang tinggal di Yogyakarta. Sehingga Film pendek Srawung lan Tetulung masih menjukan
adanya stereotipe dari hasil tindakan etnosentrisme pada Film. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan
paradigma kritis dan melalui pendekatan semiotika Ferdinand de Saussure yang terdiri dari Penanda (Signifier) dan Petanda
(Signified). Hasil dari penelitian ini menunjukan adanya bentuk rasisme Individu, Rasisme Ideologi, Rasisme Berbalik
dan Rasisme ideologi Etnosentrisme dalam empat scene yang dipilih oleh peneliti.
Kata Kunci: Presentasi, Film, Rasisme, Semiotika Ferdiand De Saussure
ABSTRACT
Racism is a conflict caused by racial differences, racism as a form of degrading other groups / races that have differences
as minorities. Racism takes the form of treating others differently by providing them based on the concept of race, society
or self-thinking, namely gender, religion, language, not sexual orientation, which determine the degree or status of humans
in social behavior. Srawung lan Tetulung is a short film tells about issue of racism in Yogyakarta which displays mutual
respect between different ethnic groups. Focus of this research raises the issue of racism which focuses on the behavior
of Javanese ethnicity towards ethnic Papuans which raises the prejudice that Papuans living in Yogyakarta have. And
then film Srawung and Tetulung contains elements of ethnocentrism. So the film Srawung and Tetulung still shows the
stereotype of the results of ethnocentrism in the film. This study uses a qualitative method with a constructivist paradigm
and through the semiotic approach of Ferdinand de Saussure which consists of a signifier and signified. The results of
this study indicate that there are forms of individual racism, ideological racism, reversed racism and ideological racism
of ethnocentrism in the four scenes chosen by the researcher.
Keywords: Presentation, Film, Racisme, Semiotic Ferdinand De Saussure

Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.
max_upload :0