Representasi Kritik Sosial Film Dokumenter "indonesia's First All-transgirlband: Amuba" (analisis Semiotika Roland Barthes)

Regin Septiani, Reni Nuraeni

Abstract

Abstract Deviant sexual behavior in Indonesia is still considered as an unusual thing because Indonesian culture tends to be eastern and is guided by the behavior of religious teachings. Polemics regarding LGBT are currently divided into pros and cons. Related to the phenomenon that occurred, one of the documentaries about transgender women named Tamara Pertamina, Vanessa Mouriz, Jessica Ayu Lesmana and Nike Faradilla who are members of a trans-girl band called "Amuba". They recounted their lives as transgender buskers where they were so slandered and faced continuous discrimination. This causes the emergence of social problems caused by people's assumptions about differences. As well as the emergence of social criticism made to fix this problem. In this study, the researcher focuses on the representation of social criticism contained in the documentary film "Indonesia's First All-Trans Girlband: Amuba". This research is a qualitative research with a critical paradigm using the semiotic analysis technique of Roland Barthes. The results of the research contained in this documentary prove that there is social criticism caused by social problems around people who cannot accept differences, this causes discrimination against minorities, especially transgender people. Keywords: Social Critics, Documentary, Trans-Girlband Abstrak Perilaku seksual yang menyimpang di Indonesia masih dianggap menjadi suatu hal yang tidak lazim karena budaya Indonesia yang cenderung ketimuran dan berpedoman pada ajaran agama. Polemik mengenai LGBT pada saat ini terbagi dengan adanya pro dan kontra. Terkait dengan fenomena yang terjadi, salah satu film dokumenter mengenai transeksual waria yaitu Tamara Pertamina, Vanessa Mouriz, Jessica Ayu Lesmana dan Nike Faradilla yang tergabung menjadi trans-girlband bernamakan “Amuba”. Mereka menceritakan kehidupannya menjadi pengamen waria dimana mereka begitu difitnah dan menghadapi diskriminasi yang berkelanjutan. Hal tersebut menyebabkan adanya permasalahan sosial yang disebabkan oleh anggapan masyarakat mengenai perbedaan. Serta akan munculnya kritik sosial yang dibuat untuk memperbaiki permasalahan ini. Dalam penelitian ini, peneliti berfokus pada representasi kritik sosial yang terdapat dalam film dokumenter “Indonesia’s First All-Trans Girlband: Amuba”. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan paradigma kritis menggunakan teknik analisis semiotika Roland Barthes. Hasil penelitian yang terkandung dalam film dokumenter ini membuktikan adanya kritik sosial yang diakibatkan oleh permasalahan sosial disekitar masyarakat yang tidak bisa menerima perbedaan, hal tersebut menyebabkan adanya diskriminasi terhadap kaum – kaum minoritas khsusnya waria. Kata Kunci: Kritik Sosial, Film dokumenter, Trans-Girlband

Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.
max_upload :0