Konsep Diri pada Perempuan Korban NCII: Sebuah Studi Fenomenologi
Abstract
Berdasarkan data Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) per Agustus 2024, yang mengungkapkan bahwa perempuan menjadi 92,38% (267 dari 321) korban dalam kasus pornografi, penelitian ini mengkaji fenomena Non-Consensual Intimate Image (NCII) beserta dampaknya pada konsep diri korban perempuan yang aktif di media sosial. Penelitian ini bertujuan untuk memahami secara mendalam bagaimana pengalaman menjadi korban NCII membentuk dan mengubah konsep diri mereka pasca-insiden. Menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologi, penelitian ini melibatkan wawancara mendalam dengan lima perempuan korban NCII yang merupakan pengguna aktif platform seperti Instagram, Facebook, TikTok, Telegram, dan X. Analisis didasarkan pada teori konsep diri dari Stuart & Laraia (1998), yang mencakup lima unit analisis: citra tubuh (body image), diri ideal (ideal self), harga diri (self-esteem), performa peran (role performance), dan identitas pribadi (personal identity). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengalaman sebagai korban NCII menyebabkan guncangan dan perubahan signifikan pada kelima komponen konsep diri, terutama kerusakan pada citra tubuh dan perubahan identitas pribadi. Ditemukan bahwa para korban melalui proses memaknai ulang pengalaman traumatis tersebut untuk merekonstruksi persepsi diri yang lebih positif. Proses evaluasi diri secara internal dalam pemulihan dan pembentukan kembali identitas mereka. Temuan ini menggarisbawahi perlunya pendekatan pemulihan yang lebih komprehensif yang mempertimbangkan aspek psikologis dan sosial dalam mendukung korban NCII. Kata Kunci: Konsep Diri, NCII, Fenomenologi, Korban Perempuan, Perempuan.
References
Akhyar, Y. L. (2014). Filsafat Ilmu: Klasik hingga Kontemporer. Jakarta: Rajawali Pers.
Annur, C. M. (2024, Februari 5). Penetrasi Internet DI Yogyakarta Tertinggi di Pulau Jawa pada 2024.
APJII. (2024, Februari 7). APJII Jumlah Pengguna Internet Indonesia Tembus 221 Juta Orang.
Arivia, G. (2018). Filsafat Berperspektif Feminis. Jakarta: YJP Press.
Barker, L. L., & Wiseman, G. (1966). A model of intrapersonal communication. Journal of Communication, 172– 179.
BPS (2025, Mei 9). Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin, 2025.
Burrel, G., & Morgan, G. (2005). Sociological Paradigms and Organisational Analysis. Burlington: Ashgate Publishing Company.
Creswell, J. W. (2018). Research Design: Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods Approaches (4th ed.). Sage Publications.
Defence, M. (2024). Module 2 DIGITAL ATTACKS AND ONLINE GENDER- BASED VIOLENCE. London: Media Defence.
Dewi, P. A. (2023, Juni 4). Guys, Kenali Risiko Terberat Pacaran Virtual, Pakar UNESA; Pertimbangkan Baik-baik.
Dines, G. (2010). Pornland: How Porn Has Hijacked Our Sexuality. Boston: Beacon Press.
Filmanda, F., Argiati, S. H. B., & Sugiarto, R. (2022). Dinamika psikologi perempuan penyitas cyber sexual harassment. Jurnal Spirits, 12(2), 86–95.
Haryadi, D. (2013). Kebijakan Integral Penanggulangan Cyberporn di Indonesia. Yogyakarta: Lima.
Hero, E., & Astini, B. (2023). Mental Health Communication: The Phenomenon of Cyber Sexual Harassment Through Social Media. Asian Journal of Media and Communication, 7(1).
Hinton, S. (2013). Understanding Social Media. Los Angeles: SAGE.
Iroegbu, M., O’Brien, F., Muñoz, L. C., & Parsons, G. (2024). Investigating the psychological impact of cyber-sexual harassment. Journal of Interpersonal Violence, 39(15–16), 3424–3445.
Kabha, R., Kamel, A. M., Al-Tkhayneh, K. M., & Hadi, S. A. (2024). How sexual violence is portrayed through social media. Studies in Media and Communication, 12(1), 41–52.
Kemp, S. (2025, February 25). DIGITAL 2025: INDONESIA.Kompas. (2024, Januari 9). Apa Itu Revenge Porn? Ketahui Saluran Pengaduan bagi Korban.Langsdorf, L. (1994). Why phenomenology in communication research? Human Studies, 1–8.Leclerc, A. (1974). Parole de femme.Lister, M., Dovey, J., Giddings, S., Grant, L., & Kelly, K. (2009). New Media: A Critical Introduction. London: Routledge.Littlejohn, S. W., & Foss, K. A. (2011). Theories of Human Communication (10th ed.). Waveland Press Inc.Livingstone, S. (2004). Media literacy and the challenge of new ICTs. The Communication Review, 7(1), 3–14.Lumbanrau, R. E. (2021, April 6). Kekerasan online: Korban revenge porn dimaki, dicekik, hingga konten intim disebar - 'Saya berkali-kali mencoba bunuh diri'.Maulidia, H. (2021). Perempuan dalam kajian sosiologi gender. Polikrasi: Journal of Politics and Democracy, 71–79.McGlynn, C., Johnson, K., Henry, N., Flynn, A., Powell, A., Gavey, N., & Scott, A. (2019). Shattering Lives and Myths: A Report on Image-Based Sexual Abuse. Durham: Durham University.McKinlay, T., & Lavis, T. (2020). Why did she send it in the first place? Psychiatry, Psychology and Law, 27(2), 1–11.McLuhan, M. (1958). Media alchemy in art and society. Journal of Communication, 63–67.Mola, A. G., & Nurhadiyanto, L. (2023). Gaya hidup berisiko dalam revenge porn. Kraith-Humaniora, 7(3), 39–48.Moryń, M. (2018). Fenomenologia. Filozofia Publiczna i Edukacja Demokratyczna.Nadia, N. (2018). Atas nama cinta: Relasi kuasa dan reviktimisasi. Yayasan Jurnal Perempuan, 63–76.Nurtjahyo, L. I. (n.d.). Kekerasan seksual di internet meningkat selama pandemi dan sasar anak muda: kenali bentuknya dan apa yang bisa dilakukan?Park, R. E. (1935). [Review of Ideas: General Introduction to Pure Phenomenology, by W. R. Boyce Gibson & E. Husserl]. American Journal of Sociology, 40(3), 371–373.Patella-Rey, P. J. (2018). Beyond privacy: Bodily integrity and non-consensual pornography. Information, Communication & Society, 21(5), 786–791.Paulin, M., & Boon, S. D. (2021). Revenge via social media. Journal of Social and Personal Relationship, 38(12), 3692–3712.Pavlik, J. V. (2016). Converging Media: A New Introduction to Mass Communication. Oxford University Press.Perempuan, K. (2024). Kajian 21 Tahun Catatan Tahunan Komnas Perempuan 2001–2021. Jakarta: Komnas Perempuan.
Polito, D., & M, C. (1977). Intrapersonal Communication. Menlo Park, CA: Cummings Pub. Co.Polri, B. (2024, Agustus 22). Perempuan, Paling Banyak Menjadi Korban Kejahatan Pornografi.
Rackley, E., McGlynn, C., Johnson, K., et al. (2021). Seeking justice and redress. Feminist Legal Studies, 29, 293– 322.Rakhmat, J. (2013). Psikologi Komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosda Karya.
Rasiwan, I., & Terranova, R. (2024). Pertanggungjawaban pidana pelaku revenge porn. Jurnal Hukum Indonesia, 158–167.
Rumaisha Alwi, Z., & Fitriani, D. R. (2023). Konsep diri korban kekerasan seksual. Jurnal Lensa Mutiara Komunikasi, 7(2), 85–96.StopNCII. (n.d.). https://stopncii.org/faq/Stroud, S. R. (2014). The dark side of the online self. Journal of Mass Media Ethics, 29(3), 168–183.Stuart, G. W., & Laraia, M. T. (1998). Self-concept responses and dissociative disorders. In Pocket Guide to Psychiatric Nursing (pp. 204–226). Missouri: Mosby Year Book Inc.Sugiyanto, O. (2021). Perempuan dan revenge porn: Konstruksi sosial. Jurnal Wanita dan Keluarga, 2(1), 22–31.
Taormino, T., Shimizu, C. P., Penley, C., & Miller-Young, M. (2013). The Feminist Porn Book: The Politics of Producing Pleasure. New York: Feminist Press at CUNY.We Are Social (2025). Special Report - Digital Report 2025.
Willis, M., Bridges, A. J., & Sun, C. (2022). Pornography use, gender, and sexual objectification. Sexuality & Culture, 26, 1298–1313.
Wirman, W., et al. (2021). Dimensi konsep diri korban cyber sexual harassment. Jurnal Kajian Komunikasi, 9(1), 79– 93.



