Analisis Semiotika Kekerasan Simbolik pada Film Petualangan Sherina 2

Penulis

  • Fatya Regitha Kesuma
  • Twin Agus Pramonojati

Abstrak

Penelitian ini mengkaji representasi kekerasan simbolik dalam film Petualangan Sherina 2 melalui tanda-tanda visual dan verbal yang membangun relasi kuasa antar tokoh. Film sebagai produk budaya populer tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menjadi medium yang merepresentasikan nilai, norma, dan struktur sosial yang berkembang dalam masyarakat. Kekerasan simbolik dalam film ini hadir secara tidak langsung, bekerja melalui bahasa, simbol, dan pola interaksi yang diterima sebagai sesuatu yang wajar. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi makna denotasi, konotasi, dan mitos yang berkaitan dengan kekerasan simbolik dalam film Petualangan Sherina 2. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan semiotika Roland Barthes. Unit analisis difokuskan pada lima adegan yang menampilkan interaksi antar tokoh dalam konteks pengambilan keputusan, kerja sama, dan konflik. Data dikumpulkan melalui observasi terhadap adegan film serta didukung oleh studi pustaka yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa film Petualangan Sherina 2 merepresentasikan kekerasan simbolik melalui normalisasi relasi kuasa yang timpang, delegitimasi otoritas dalam proses pengambilan keputusan, serta penguatan makna simbolik yang dilegitimasi oleh nilai-nilai sosial tertentu. Praktik kekerasan simbolik tersebut disajikan secara implisit dan diterima sebagai bagian dari dinamika relasi yang wajar dalam narasi film. Dengan demikian, film ini menunjukkan bagaimana struktur makna bekerja secara halus dan berpotensi memengaruhi cara pandang penonton terhadap relasi kuasa dalam kehidupan sosial. Kata Kunci : semiotika roland barthes; kekerasan simbolik; relasi kuasa; film Indonesia.

Referensi

Agustinus, G. R. D., & Partini, S. U. (2021). Domestifikasi dan kekerasan simbolik terhadap perempuan. Jurnal Ilmu Komunikasi, 8(2), 123–145.

Amanda, G., & Ras, N. M. (2020). Masyarakat majemuk II: Stereotipe, prasangka, pluralisme. Penerbit Umum.

Anggoro, A. R. P. (2016). Konsep-konsep dasar semiotika struktural pada momen ilmiah Roland Barthes. Institut Seni Indonesia Surakarta.

Ariani, M. (2015). Representasi kecantikan dalam film 200 Pounds Beauty. E-Journal Ilmu Komunikasi, 3(4), 320–332.

Apriyansyah, D. (2021). Kekerasan simbolik dalam praktik pendidikan agama Islam. Mubtadiin, 7, 159–166.

Bambang Mudjiyanto, & Nur, E. (2013). Semiotika dalam metode penelitian komunikasi. Jurnal Pekommas, 16(1), 73– 82.

Barthes, R. (1972). Mythologies. Hill and Wang.

Barker, C. (2012). Cultural studies: Theory and practice (4th ed.). London: Sage Publications.

Bourdieu, P. (1991). Language and symbolic power. Harvard University Press.

Bourdieu, P. (2001). Masculine domination. Stanford University Press.

Bourdieu, P., & Passeron, J.-C. (1990). Reproduction in education, society, and culture (2nd ed.). SAGE Publications.

Chazizah, N. (2017). Representasi stereotip gender dalam media massa. Jurnal Ilmu Komunikasi, 15(2), 123–135.

Corbin, J., & Strauss, A. (2015). Basics of qualitative research (4th ed.). SAGE Publications.

Danesi, M. (2010). Pengantar memahami semiotika media. Jalasutra.

Daulay, S. B. N. (2023). Kekerasan simbolik dalam film Ngeri-Ngeri Sedap. Jurnal Penelitian Media, 11(2), 66–80.

Denisa, A., & Pramonojati, T. A. (2022). Analisis semiotika kekerasan simbolik dalam film Story of Kale. Jurnal Ilmiah LISKI, 8(2), 113–124.

Denzin, N. K., & Lincoln, Y. S. (2018). The SAGE handbook of qualitative research. SAGE Publications.

Effendy, O. U. (2007). Kamus komunikasi. Mandar Maju.

Effendy, O. U. (2009). Dimensi-dimensi komunikasi. PT Alumni.

Endang, A., & Asnawati, A. (2021). Representation of symbolic violence in infidelity. Sengkuni Journal. https://doi.org/10.37638/sengkuni.2.2.89-98

Fakih, M. (2004). Analisis gender dan transformasi sosial. Pustaka Pelajar.

Fakih, M. (2012). Mengembangkan perspektif gender. Pustaka Pelajar.

Fatimah, R., & Rizki, F. (2020). Symbolic violence in K-drama Strong Woman Do Bong Soon.

Fiske, J. (2010). Introduction to communication studies (3rd ed.). London: Routledge.

Gusnita, C. (2017). Kekerasan simbolik berita kriminal di media massa. Deviance: Jurnal Kriminologi, 1(1), 71–81.

Hall, S. (1997). Representation: Cultural representations and signifying practices. London: Sage Publications.

Haryatmoko. (2007). Etika komunikasi: Manipulasi media, kekerasan, dan pornografi. Kanisius.

Ibrahim, I. S. (2011). Budaya populer sebagai komunikasi. Jalasutra.

Imanto, T. (2007). Film sebagai proses kreatif. Jurnal Komunikasi, 4(1).

Javadalasta. (2011). Lima hari mahir bikin film. Mumtaz Media.

Johnson, D. W., & Johnson, F. P. (2000). Joining together: Group theory and group skills. Pearson.

Juniatri, E., & Wahyuni, M. (2022). Pesan moral pada film Mencari Hilal. Journal of Religion and Film, 1(2), 96–115.

Junisti, T. (2020). Kajian semiotika Roland Barthes pada poster UNICEF. JEHSS, 3(2), 726–733.

Karnanta, H. (2023). Symbolic violence and discrimination in social media. International Journal of Media Studies.

Kriyantono, R. (2008). Teknik praktis riset komunikasi. Kencana.

Kusumastuti, A., & Khoiron, A. M. (2019). Agama sebagai instrumen kekerasan simbolik. Jurnal Manajemen Komunikasi, 1(2), 195–217.

Lestari, D. (2022). Representasi kekerasan simbolik dalam film Keluarga Cemara. Jurnal Komunikasi dan Budaya, 10(2), 45–60.

Liliweri, A. (2018). Prasangka, konflik, dan komunikasi antarbudaya. Kencana.

Mufid, M. (2015). Etika filsafat komunikasi. Kencana.

Mudjiono, Y. (2011). Kajian semiotika dalam film. Jurnal Ilmu Komunikasi, 1(1), 125–138.

Musdawati, M., & Budiarti, S. (2020). Kekerasan simbolik dalam iklan Attack Easy. Jurnal Komunikasi, 7(3), 200–215.

Ningsih, A. J. (2022). Representasi kekerasan simbolik dalam drama The Lion in Winter. Jurnal Kajian Gender, 8(2), 102–115.

Pamungkas, B. A., et al. (2024). Analisis semiotika dalam film Ngeri-Ngeri Sedap. Jurnal Ilmu Komunikasi, 10(3), 78– 92.

Patton, M. Q. (1999). Enhancing the quality and credibility of qualitative analysis. Health Services Research, 34(5), 1189–1208.

Storey, J. (2018). Cultural theory and popular culture: An introduction (8th ed.). London: Routledge.

Pertiwi, A., & Muspika, S. (2022). Konstruksi nilai moral dalam film Dancing in the Rain. Journal of Religion and Film, 1(2), 152–172.

Pratista, H. (2008). Memahami film. Homerian Pustaka.

Purba, S., et al. (2020). Perilaku organisasi. Yayasan Kita Menulis.

Santrock, J. W. (2003). Adolescence. Erlangga.

Satrio Arismunandar. (2020). Pierre Bourdieu dan konsep kekerasan simbolik. Madani, 12(1), 41–60.

Monaco, J. (2009). How to read a film: Movies, media, and beyond (4th ed.). New York, NY: Oxford University Press.

Sendjaja, D. (2002). Teori komunikasi. Universitas Terbuka.

Sobur, A. (2004). Semiotika komunikasi. PT Remaja Rosdakarya.

Sobur, A. (2015). Analisis teks media. PT Remaja Rosdakarya.

Sukarelawati. (2009). Komunikasi interpersonal membentuk sikap remaja. IPB Press.

Todak, N. (2024). The final frontier: Police culture for women in men’s spaces. Policing: An International Journal, 47(4), 545–561.

Wahyuningsih, L. (2021). Representations of child violence in Benalu. International Journal of Education and Social Science.

Wibisono, A., & Puspanidra, T. (2023). Representasi kekerasan simbolik dalam sinetron Indonesia. International Journal of Communication Studies.

Wijayantie, Y. N. (2020). Representasi kekerasan dalam rumah tangga pada film Raksasa dari Jogja. Jurnal Ilmu Komunikasi, 4(1), 434–450.

Wood, J. T. (2015). Gendered lives: Communication, gender, and culture (10th ed.). Boston: Cengage Learning.

Yazew, B. T. (2024). Women’s contributions vs men’s patriarchal status. Heliyon, 10(14).

Diterbitkan

2026-08-01

Terbitan

Halaman

6034 - 6041

Bagian

Prodi S1 Ilmu Komunikasi