Personal Branding Selebgram Hanum Mega Pra Pasca Perceraian : Analisis Teori Identitas Diri Dalam Pembentukan Citra Sosial Di Media Sosial
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses rekonstruksi identitas diri selebgram Hanum Mega pasca perceraian, melalui perspektif teori identitas diri dan strategi personal branding di media sosial, khususnya Instagram. Hanum Mega, sebagai beauty influencer dengan jutaan pengikut, menghadapi krisis identitas akibat perceraian yang disertai skandal perselingkuhan suami. Dalam kondisi ini, ia memanfaatkan media sosial tidak hanya sebagai sarana ekspresi emosional, tetapi juga sebagai panggung untuk membentuk kembali citra sosialnya sebagai wanita mandiri dan kuat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, mengandalkan wawancara, observasi, dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Hanum Mega membangun narasi baru melalui konsistensi visual, caption, serta interaksi dua arah dengan audiens untuk menumbuhkan empati dan dukungan. Strategi selektif dalam pengungkapan informasi dan framing pesan menjadi kunci dalam membentuk identitas baru yang autentik namun tetap terkontrol. Temuan ini menguatkan relevansi teori Goffman tentang dramaturgi dan Erikson-Marcia terkait krisis serta pencapaian identitas dalam konteks digital. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap studi komunikasi, khususnya dalam memahami dinamika identitas, personal branding, dan media sosial sebagai alat rekonstruksi diri di era digital. Kata Kunci : Rekontruksi Identitas, Personal Branding, Media Sosial, Hanum Mega, Teori Identitas Diri
Referensi
Abidin, C. (2022). “Aren’t these just young, rich women doing vain things online?”: Influencer selfies as subversive frivolity. Social Media + Society, 2(2). https://doi.org/10.1177/2056305116641342
Apriananta, Y. J., & Wijaya, L. S. (2018). Penggunaan website dan media sosial dalam membangun citra positif perguruan tinggi. KOMUNIKATIF: Jurnal Ilmiah Komunikasi, 7(2), 187-209.
Ayun, P. Q. (2015). Fenomena remaja menggunakan media sosial dalam membentuk identitas. Jurnal Channel, 3(2), 1-16.
Erikson, E. H. (1968). Identity: Youth and crisis. New York: W. W. Norton & Company.
Goffman, E. (1959). The presentation of self in everyday life. Garden City, NY: Doubleday Anchor Books.
Liu, C., & Suh, A. (2021). Self-presentation and grieving on Instagram after loss: A content analysis of visual narratives. Death Studies, 45(10), 754–764. https://doi.org/10.1080/07481187.2020.1774946
Marcia, J. E. (1966). Development and validation of ego-identity status. Journal of Personality and Social Psychology, 3(5), 551–558.
Marwick, A. E., & boyd, d. (2011). To see and be seen: Celebrity practice on Twitter. Convergence, 17(2), 139–158.
Nurdin, A. A., Anjani, A. A., Rabbani, R. A. A., Mahardika, A., & Prasetyo, H. (2024). Pengaruh Negatif Standar Kecantikan Dalam Media Sosial Terhadap Citra DIri Remaja Perempuan. Kultura: Jurnal Ilmu Hukum, Sosial, dan Humaniora, 2(7), 366-372.
Randazzo, M., & Ammari, T. (2025). Kintsugi-Inspired Design: Digital Identity Repair after Crisis and Trauma. Proceedings of the ACM on Human-Computer Interaction, 9(CSCW1), Article No. XX.
Sakti, B. C., & Yulianto, M. (2018). Penggunaan media sosial instagram dalam pembentukan identitas diri remaja. Interaksi Online, 6(4), 490-501.
Unde, A. A., & Azis, S. (2018). Pengungkapan identitas diri melalui media sosial: Studi mengenai etnografi virtual melalui vlog. KAREBA: Jurnal Ilmu Komunikasi, 83-92.



