Preservasi Tradisi Kemponan Oleh Masyarakat Pontianak

Penulis

  • Shafa Fadhilah
  • Diah Agung Esfandari

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana preservasi tradisi Kemponan oleh masyarakat Pontianak dalam konteks interaksi sosial, komunikasi antarbudaya, serta pembentukan identitas budaya. Tradisi Kemponan merupakan salah satu bentuk kearifan lokal masyarakat Melayu Pontianak yang berkaitan dengan kebiasaan menjamah atau menerima makanan dan minuman yang ditawarkan sebagai bentuk penghormatan dan sopan santun. Permasalahan dalam penelitian ini berfokus pada bagaimana makna, nilai, norma, serta praktik Kemponan masih dijalankan dan dilestarikan di tengah perubahan sosial dan modernisasi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dengan informan yang terdiri dari tokoh masyarakat dan masyarakat Pontianak, serta observasi dan dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Kemponan masih dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari melalui interaksi sosial seperti menerima tamu, kegiatan keluarga, kegiatan sosial, dan sebelum bepergian. Tradisi ini mengandung nilai sopan santun, saling menghargai, kepatuhan kepada orang tua, serta berfungsi sebagai simbol identitas budaya Melayu Pontianak. Pelestarian Kemponan dilakukan secara turun-temurun melalui keluarga dan lingkungan sosial, meskipun pelaksanaannya mengalami penyesuaian di era modern. Kata kunci: Kemponan, budaya Melayu, Pontianak, komunikasi antarbudaya, identitas budaya

Referensi

Appadurai, A. (1996). Modernity at Large: Cultural Dimensions of Globalization. University of Minnesota Press.

Bakhrul Khair Amal, Supsiloani, Samosir, S. L., & Moktar, M. R. (2024). Revisiting the cultural identity of Nyadran in the globalization era: Qualitative anthropology perspective. Al-Qalam, 30(1). https://doi.org/10.31969/alq.v30i1.1415

Bernstein, D. A. (2010). Essentials of Psychology (5th ed.). Cengage Learning.

Bruner, J. (1992). Acts of Meaning. Harvard University Press.

Danandjaja, J. (2007). Folklor Indonesia: Ilmu gosip, dongeng dan lain-lain. Pustaka Utama Grafiti.

Elster, J. (1989). The Cement of Society: A Study of Social Order. Cambridge University Press.

Furnivall, J. S. (1948). Colonial Policy and Practice: A Comparative Study of Burma and Netherlands India. Cambridge University Press.

Goldstein, E. B. (2009). Sensation and Perception (8th ed.). Cengage Learning.

Gregory, R. L. (1987). The Oxford Companion to the Mind. Oxford University Press.

Gudykunst, W. B., Yoon, Y., & Nishida, T. (1987). The influence of individualism-collectivism on perceptions of communication in ingroup and outgroup relationships. Communication Monographs, 54(3), 295–306.

Hall, S. (1990). Cultural identity and diaspora. In J. Rutherford (Ed.), Identity: Community, Culture, Difference (pp. 222–237). Lawrence & Wishart.

Hall, S., & McGrew, T. (1992). Modernity and Its Futures. Polity Press.

Hammersley, M., & Atkinson, P. (2007). Ethnography: Principles in Practice (3rd ed.). Routledge.

Hobsbawm, E., & Ranger, T. (Eds.). (2014). The Invention of Tradition. Cambridge University Press.

Humaedi, S. (2013). Fungsi kemponan sebagai kontrol sosial dalam masyarakat Melayu Kalimantan. Jurnal Kebudayaan Borneo, 6(1), 14–23.

Imran, M. (2021). Tradisi kemponan dalam masyarakat Melayu. Jurnal Sosial dan Budaya, 13(2), 44–56.

Khabbaz, R. (2018). Culture and food: A universal language. International Journal of Gastronomy and Food Science, 10(3), 20–27.

Liliweri, A. (2001). Komunikasi Antarbudaya. LKiS Yogyakarta.

Liliweri, A. (2016). Dasar-dasar Komunikasi Antarbudaya. Prenadamedia Group.

Liliweri, A. (2021). Makna Budaya dalam Komunikasi. Prenadamedia Group.

Liliweri, A. (2022). Komunikasi Antarbudaya: Memahami Beragam Budaya di Indonesia. Prenadamedia Group.

Martin, J. N., & Nakayama, T. K. (2007). Intercultural Communication in Contexts (4th ed.). McGraw-Hill.

Mulyana, D., & Rakhmat, J. (2001). Komunikasi Antarbudaya: Panduan Praktis. Remaja Rosdakarya.

Nurhayati, S. (2018). Kemponan sebagai representasi budaya lokal. Jurnal Humaniora Nusantara, 3(1), 23–31.

Panuju, R. (2022). Indonesia dan potensi budayanya. Dalam Supriyanti (2014), Toponimi dan Geografi Budaya di Indonesia (hlm. 387).

Patton, M. Q. (2002). Qualitative Research and Evaluation Methods (3rd ed.). Sage Publications.

Putra, H. (2016). Budaya dan Nilai Sosial Masyarakat Indonesia. Deepublish.

Purwanto, A., Imran, I., & Ramadhan, I. (2022). Analisis rasionalisasi nilai-nilaimitos kemponan pada masyarakat etnis Melayu. Ideas: Jurnal Pendidikan, Sosial, dan Budaya, 8(1). https://doi.org/10.32884/ideas.v8i1.642

Schacter, D. L., Gilbert, D. T., & Wegner, D. M. (2011). Psychology (2nd ed.). Worth Publishers.

Spradley, J. P. (1980). Participant Observation. Holt, Rinehart and Winston.

Satori, D., & Komariah, A. (2009). Metodologi Penelitian Kualitatif. Alfabeta.

Stanley, S. (1980). Human Communication: Theory and Research. Wadsworth Publishing.

Supriyanti, E. (2014). Toponimi dan Geografi Budaya di Indonesia. LIPI Press.

Susan, F., & Shelley, T. (1991). Perception and Communication. Allyn & Bacon.

Trigwell, K. (2006). Phenomenography: An approach to research into geography teaching and learning. Journal of Geography in Higher Education, 30(2),

Diterbitkan

2026-08-01

Terbitan

Halaman

6121 - 6134

Bagian

Prodi S1 Ilmu Komunikasi