REPRESENTASI TEKANAN EMOSIONAL PELAKU KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA MELALUI KARYA SENI SOUND ART

Authors

Abstract

Karya tugas akhir ini mengangkat tema Representasi Tekanan Emosional Pelaku Kekerasan dalam Rumah Tangga melalui Karya Seni Sound Art sebagai upaya memahami sisi emosional pelaku di balik tindakan agresif yang terjadi dalam ranah domestik. Penelitian dan pengkaryaan ini berangkat dari fenomena KDRT yang kerap dipandang hanya dari sudut pandang korban, sementara dinamika batin pelaku jarang disorot sebagai bagian dari siklus kekerasan yang berulang. Melalui pendekatan teori psikoanalisis, relasi kuasa, serta kajian sound art, karya ini mengeksplorasi bagaimana konflik emosional seperti kemarahan, frustrasi, rasa bersalah, dan kehilangan kendali dapat dihadirkan secara auditif. Proses pengkaryaan dilakukan melalui perekaman, manipulasi suara, dan penyusunan komposisi bunyi yang menampilkan tiga fase utama emosi pelaku: eskalasi amarah, ledakan kekerasan, dan penyesalan pascakejadian. Elemen suara seperti napas berat, benda pecah, dentuman, getaran ruang, serta hening yang menekan digunakan sebagai simbol dinamika psikologis pelaku. Karya dipresentasikan dalam bentuk instalasi ruang untuk menciptakan pengalaman imersif, sehingga pendengar dapat merasakan ketegangan batin yang ingin direpresentasikan. Hasil akhir karya ini menunjukkan bahwa medium suara mampu menjadi sarana reflektif untuk menggambarkan konflik internal pelaku KDRT tanpa membenarkan tindakannya. Melalui pengalaman mendengarkan, audiens diajak memahami bagaimana tekanan psikologis dapat memicu perilaku destruktif, serta melihat kekerasan sebagai fenomena emosional yang kompleks. Dengan demikian, karya ini diharapkan dapat memperluas wacana mengenai KDRT dan mendorong empati kritis terhadap dinamika psikologis manusia di baliknya.

Kata kunci: sound art, kekerasan dalam rumah tangga, emosi pelaku, psikoakustik.

References

Bancroft, L. (2002). The batterer as parent: Addressing the impact of domestic violence on family dynamics. Thousand Oaks, CA: Sage Publications.

Blesser, B., & Salter, L. (2007). Spaces speak, are you listening? Experiencing aural architecture. Cambridge, MA: MIT Press.

LaBelle, B. (2006). Background noise: Perspectives on sound art. New York, NY: Continuum.

Freud, S. (1923). The ego and the id. London: The Hogarth Press. Daldjoeni, N.

(1991). Geografi kemanusiaan. Bandung: Alumni.Jurnal :

Sakina, A. I., & Herien, P. (2017). Menyoroti budaya patriarki di Indonesia. Jurnal Sosial Politik, 3(1), 71–80.

Juslin, P. N., & Västfjäll, D. (2008). Emotional responses to music: The need to consider underlying mechanisms.

Kahn, D. (1999). Noise, water, meat: A history of sound in the arts. Cambridge, MA: MIT Press.O’Doherty, B. (1999). Inside the white cube: The ideology of the gallery space.

Berkeley, CA: University of California Press.Sumber lain :

Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan. (2023). Catatan tahunan

kekerasan terhadap perempuan. Diakses dari https://komnasperempuan.go.id

UNICEF Indonesia. (2021). Child marriage in Indonesia. Diakses dari https://www.unicef.org/indonesia

Published

2026-08-01

Issue

Pages

5509 - 5522

Section

Prodi S1 Seni Rupa