Komunikasi Interpersonal Pembina Dan Client Dalam Proses Rehabilitasi Remaja Bermasalah Di Bina Griya Remaja Jawa Barat
Abstrak
Kenakalan remaja merupakan permasalahan sosial yang kompleks dan berdampak luas, baik bagi individu maupun
masyarakat. Salah satu upaya untuk menanganinya adalah melalui proses rehabilitasi sosial di lembaga seperti Griya
Bina Remaja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran komunikasi interpersonal antara pembina dan remaja
dalam mendukung proses rehabilitasi. Fokus utama adalah pada kompetensi pembina sebagai komunikator dalam
komunikasi instruksional yang mencakup elemen-elemen seperti feedback, Feedforward, Noise Management,
Communication Choice, channel, dan Code Switching. Dengan beberapa tema seperti support,tekad,emosional,strategi
dan masih banyak lagi. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan metode studi kasus, di mana data
dikumpulkan melalui observasi dan wawancara mendalam dengan pembina dan remaja sebagai informan. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa hubungan interpersonal yang hangat dan komunikatif antara pembina dan remaja sangat
mempengaruhi efektivitas rehabilitasi. Kompetensi komunikasi pembina berperan penting dalam membangun
kepercayaan, menciptakan suasana belajar yang kondusif, serta memfasilitasi perubahan perilaku positif pada remaja.
Temuan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan strategi komunikasi dalam lembaga
rehabilitasi sosial.
Kata Kunci: komunikasi interpersonal, pembina, remaja bermasalah, rehabilitasi sosial, Griya Bina Remaja
Referensi
Khoeriah, S. (2023). Program pemberdayaan sosial dalam meningkatkan kesejahteraan remaja terlantar di Pusat
Pelayanan Sosial Griya Bina Remaja (PPSGBR) Lembang (Doctoral dissertation, UIN Sunan Gunung Djati
Bandung).
Liebenberg, L., Theron, L., Sanders, J., Munford, R., Van Rensburg, A., Rothmann, S., & Ungar, M. (2016). Bolstering
resilience through teacher-student interaction: Lessons for school psychologists. School Psychology
International, 37(2), 140-154.
Van Oord, L., & Brok, P. D. (2004). The international teacher: Students’ and teachers’ perceptions of preferred teacherstudent interpersonal behaviour in two United World Colleges. Journal of Research in International Education,
(2), 131-155.Papatraianou, L. H., & Le Cornu, R. (2014). Problematising the role of personal and professional relationships in early
career teacher resilience. Australian Journal of Teacher Education (online), 39(1), 128-144.
Islamarinda, K. M., & SETIAWATI, D. (2018). Studi tentang resiliensi client broken home kelas VIII di SMPN 3 Candi
Sidoarjo. Jurnal BK Unesa, 8(2).
Khotimah, K. (2018). Faktor pembentuk resiliensi remaja dari keluarga broken home di desa pucung lor kecamatan kroya
kabupaten cilacap. KOMUNIKA: Jurnal Dakwah Dan Komunikasi, 12(1), 136-157.
Erlangga, D., Chaerul, A., & Syahid, A. (2023). IMPLEMENTASI KONSEP PLANNING, ORGANIZING,
ACTUATING, CONTROLLING DALAM PENGELOLAAN PROGRAM KURSUS MENGEMUDI.
Jurnal Eksistensi Pendidikan Luar Sekolah (E-Plus), 8(1).
Thadi, R. (2019). Proses Komunikasi Instruksional dalam Pembelajaran Vokasional. Journal of Education and Instruction
(JOEAI), 2(1), 49-55.
Susanto, R., Syofyan, H., Febriani, E., Nisa, M. A., Oktafiani, O., Yolanda, Y. D., ... & Nurlinda, B. D. (2021).
Pemberdayaan Keterampilan Model Komunikasi Instruksional Guru SD. International Journal of Community
Service Learning, 5(2), 84-94.
Sakti, G. T., Suryana, A., & Setiaman, A. (2012). Komunikasi Instruksional Pengajar Dalam Membentuk Sikap Anggota
Untuk Melestarikan Aksara Sunda Sebagai Budaya Sunda. Students e-Journal, 1(1), 25.
Liliweri, A. (2011). Komunikasi: Serba ada, serba makna. Jakarta: Kencana. 2.Sanjani, M. A.
(2020). Tugas dan peranan guru dalam proses peningkatan belajar mengajar. Serunai: Jurnal Ilmiah Ilmu
Pendidikan, 6(1), 35-42.
Mukti, F. D. W. (2019). Kenakalan remaja (juvenile delinquency): sebuah studi kasus pada remaja laki-laki yang terjerat
kasus hukum. Jurnal Penelitian Psikologi, 6(01).
Mulyana, E., Nurhafifiyanti, L., Suherman, A., Widyanti, T., Tetep, T., Dahlena, A., & Supriyatna, A. (2022). Peran
Guru IPS Dalam Mengatasi Kenakalan Remaja. SOSEARCH: Social Science Educational research, 3(1), 25-
Mukhlisa, N., & Rahmawati, F. (2024). Mengatasi Kenakalan Remaja Melalui Pendidikan Agama Islam:Peran Guru
yang Signifikan di SMP Negeri 26 Makassar. Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sosial, 2(4), 556-564. 15.Afrita, F.,
& Yusri, F. (2023). Faktor-faktor yang mempengaruhi kenakalan remaja. Educativo: Jurnal Pendidikan, 2(1),
-26.
Setiawan, F., Taufiq, W., Lestari, A. P., Restianty, R. A., & Sari, L. I. (2021). Kebijakan Pendidikan Karakter Dalam
Meminimalisir Kenakalan Remaja. Al-Mutharahah: Jurnal Penelitian Dan Kajian Sosial Keagamaan, 18(1), 62-
Liebenberg, L., Theron, L., Sanders, J., Munford, R., Van Rensburg, A., Rothmann, S., & Ungar, M.(2016). Bolstering
resilience through teacher-student interaction: Lessons for school psychologists. School Psychology
International, 37(2), 140-154.
Pitzer, J., & Skinner, E. (2017). Predictors of changes in students’ motivational resilience over the school year: The roles
of teacher support, self-appraisals, and emotional reactivity. International Journal of Behavioral Development,
(1), 15-29.
Creswell,John W. 1998. Qualitative Inquiry And Research Design: Choosing
Among Five Traditions. London: SAGE Publications.
Sugiyono. (2009). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung:Alfabeta.
DeVito, J. A., & DeVito, J. (2019). The interpersonal communication book. Instructor, 1.
Abdi. (2020). Metode Penelitian Kualitatif (Teori & Panduan Praktis Analisis Data Kualitatif) (Nomor August).
Kuantitatif, P. P. (2016). Metode Penelitian Kunatitatif Kualitatif dan R&D. Alfabeta, Bandung.
Puji Lestari, S. (2021). METODE PENELITIAN KUALITATIF



